BSN Menyusun RSNI Fon Aksara Daerah dan RSNI Tata Letak Papan Tombol Aksara Daerah

Berita

Informasi terkait digitalisasi aksara Nusantara.

PANDI: Merajut Indonesia Melalui Digitalisasi Aksara Pegon

Mimdan— 17 April 2021 12:58

PANDI (Pengelola Nama Domain Internet Indonesia) menggelar acara Dialog Publik “Menyongsong Digitalisasi Aksara Pegon di Nusantara”. Acara digelar di Pendopo Jombor Pratama, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Minggu Malam (11/04/2021).

Acara tersebut merupakan kolaborasi Pandi.id dengan penggiat aksara pegon dalam upaya menginisiasi digitalisasi aksara ditengah perkembangan zaman yang begitu cepat. Dialog Publik tersebut berlangsung tentunya dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Acara dibuka oleh penyampaian dari KH. Ahmad Muwafiq sebagai Keynote Speaker. Kemudian dilanjutkan KH. Alfin Sonhaji (Ketua PCNU Gresik), Ahma Ginanjar Sa’ban (Penulis Buku Mahakarya Islam Nusantara sekaligus direktur Islam Nusantara Center), Ayung Notonegoro (Founder Komunitas Pegon), dan Prof.Yudho GS (Ketua PANDI) serta dimoderatori oleh Kang Diaz.

KH Ahmad Muwafiq selaku keynote speaker pada acara tersebut menyampaikan bahwa Aksara jawa merupakan salah satu idiom bangsa Indonesia khususnya masyarakat jawa. Tidak hanya itu aksara jawa juga dipakai oleh pesantren sebagai transkrip kitab kuning dan melahirkan huruf pegon atau arab pegon.

“Apa yang dimiliki sebuah bangsa harus dihadirkan menjadi satu hal yang diakui dunia. Karena bangsa lain membutuhkan yang lainnya, sehingga dalam memahami suatu bangsa harus faham bahasanya, harus faham aksaranya. Sehingga ini merupakan upaya anak bangsa untuk sejajar dengan anak bangsa yang lainnya,” Ucap KH Ahmad Muwafiq yang disambut tepuk tangan dari para hadirin yang hadir di Pendopo Jombor.

Selain itu Prof.Yudho GS selaku Ketua PANDI dan KH. Alfin Sonhaji sangat mengapresiasi dengan adanya acara ini. Karena selain memberikan warna baru serta upaya merawat warisan budaya dalam aksara jawa, digitalisasi juga mampu menarik minat dunia luar untuk  mencatat aksara jawa sebagai hal didunia yang unik.

Pada puncaknya, acara tersebut ditutup dengan do’a oleh KH. Alfin Sonhaji yang dilanjut foto bersama seluruh pembicara bersama para hadirin yang hadir secara luring.


Sumber: jogja.beritabaru.co

Tulisan Lainnya


Aksara Nusantara: Bukan Hanya Dilestarikan, Tapi Diterapkan

Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) mengadakan Webinar melalui aplikasi zoom, Kamis (9/9). Kegiatan tersebut digelar untuk menyambut Hari Aksara Internasional yang selalu diperingati setiap tanggal 8 September, dengan mengusung tema “Back To The Future: Peran Aksara Nusantara Pada Era Industri 4.0”.

Aksara Jawa, Sunda, dan Bali akan Didaftarkan Bersamaan ke BSN

Pengajuan dokumen Rancangan Standar Nasional Indonesia (RSNI) untuk standar papan ketik, fon, dan transliterasi aksara Jawa serta Sunda ke Badan Standardisasi Nasional (BSN) yang diajukan oleh Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (Pandi), tidak bisa diajukan satu persatu.

Bahasa dan Aksara Asli sebagai Akar Ketahanan Digital

Membangun ketahanan digital bangsa ini, kita memerlukan metode pengamanan yang tidak dimiliki bangsa lain. Bahasa dan aksara asli dapat dijadikan piranti untuk memperkokoh “serangan digital” dari negara lain.

Aksara Jawa dan Sunda segera Memperoleh Standardisasi

Setelah melalui diskusi panjang selama simposium berlangsung, akhirnya pegiat aksara Sunda, akademisi dan seluruh stakeholder yang terlibat dapat menyepakati standar papan ketik, fon dan transliterasi aksara Sunda. Ini akan kita ajukan kepada BSN dalam waktu dekat

Aksara Sunda dalam Gaya Kaligrafi

Untuk aksara Sunda, kelihatannya belum begitu berkembang dalam gaya kaligrafi. Di masyarakat sekarang, aksara Sunda tampaknya baru digunakan untuk menulis biasa atau standar persis seperti bentuk dasarnya.

Digitalisasi: Mengikis Jarak Milenial dengan Aksara Jawa

Kalau kita proyeksikan, kemungkinan dengan kondisi seperti ini, kalau kita tidak ada kegiatan apa-apa, 150-200 tahun lagi mungkin sudah mati aksara Jawa. Karena tidak ada yang memakainya. Itu masalah yang paling nyata yang bisa kita identifikasi