Lomba Cipta Lagu

Artikel

Informasi terkait digitalisasi aksara Nusantara.

Pegon, Aksara Khas Pesantrenan Lestari Hingga Kini

Idayatul Rohmah— 16 Februari 2021 16:00
Santri sedang mengaji kitab kuning. (TEMPO)

Gema suara bacaan kitab kuning nyaring terdengar dari sebuah masjid di pondok pesantren Futuhiyah Mranggen, Demak. Sore itu, para santri lengkap dengan sarung dan peci duduk bersila menyimak KH Muhamaf Hafidz yang membaca di depan mimbar.

Melalui indera dengarnya, Muhammad Indra Permana (12) di antara santri yang memerhatikan saksama segera menangkap setiap frasa yang disampaikan pengajar dengan metode bandongan tersebut.

Di kitab bernama akhlaqul lil banin yang dipangkunya, Indra lincah merangkai abjad arab menjadi jawa pegon yang digantungkan di bawah kalimat-kalimat berbahasa Arab.

"Saya sudah lama belajar aksara pegon. Sekarang sudah lancar maknani kitab 'menulis makna pada kitab' dengan aksara ini," kata Indra, santri asal Kecamatan Bonang saat aktivitas mengaji di pondok pesantren Futuhiyah beberapa waktu lalu.

Kehidupan para santri yang intim dengan penggunaan aksara pegon itu terkadang pula membuat Muhammad Najih Syafi (18) santri lainnya, akrab dengan kegiatan tulis-menulis pegon.

Selain untuk keperluan pribadi, Syafi juga menulisnya saat belajar ilmu tertentu di pendidikan formal. Ada kebanggaan tersendiri bagi siswa kelas XII Madrasah Aliyah (MA) tersebut ketika bisa menulis kalimat-kalimat dengan aksara pegon.

"Biasanya mata pelajaran muatan lokal lebih condong ke penulisan aksara pegon. Pelajaran muatan lokal ini saya konsisten menggunakan pegon karena berbeda dan lebih menantang," kata dia tersenyum sembari menunjukkan buku tulisnya beraksara Pegon.

Mungkin, aktivitas-aktivitas seperti di pesantren inilah yang membuat aksara pegon tetap lestari hingga kini. Sebagian besar pesantren di Kabupaten Demak tetap mempertahankan kultur Wali Songo yang diwariskan sejak ratusan tahun lalu itu.

Setidaknya, ada 163 pesantren di Kabupaten Demak masih akrab dengan literasi beraksara pegon.

"Aksara pegon ini khas di pesantren dan sifatnya terkait kurikulum. Kami mendukung setiap kegiatan meski keterlibatan daerah memang belum begitu maksimal," kata Ahmad Anas Kasie PD Pontren Kantor Kemenag Kabupaten Demak.

Begitu disampaikan KH Zainal Arifin Kepala Pondok Pesantren Fathul Huda Sayung, Demak. Menurut putra pendiri Ponpes itu, sudah sepatutnya aksara Pegon tetap dipertahankan untuk generasi yang akan datang. Pegon telah berkembang dalam khazanah komunikasi pernaskahan Nusantara.

Di Fathul Huda, aksara Pegon sudah digunakan sejak awal pondok pesantren itu berdiri tahun 1958 silam. Ayahnya, almarhum KH Ma'shum Mahfudzi saat itu menjadikan aksara ini sebagai dasar untuk para santri mempelajari kitab-kitab klasik.

Bukan tanpa alasan, huruf Arab yang disesuaikan dengan bahasa daerah nusantara tersebut digunakan untuk menggali ilmu-ilmu yang diajarkan di pesantren.

"Kiai-kiai dahulu mendidik santrinya memahami lafaz mulai dari sangat dasar. Maka dari itu, saya menerapkan metode yang diturunkan orangtua. Arab pegon digunakan untuk mendalami lafaz-lafaz, karena tidak mungkin kami bisa menggali kalimat-kalimat yang ada di kitab kuning itu tanpa harus mengetahui grammar, ikrab, tarkib, dan maknanya," terang Kiai Zainal di pesantren Fathul Huda.

Aksara Pegon di pesantren mulai dikenalkan kepada santri seiring dengan pengenalan huruf Hijaiyah atau abjad arab. Di pesantren yang juga memiliki sekolah Diniyah, pengenalan huruf ini dimulai ketika santri berada di taman pendidikan Al-Qur'an (TPQ). Pembelajaran terus berlanjut ke tingkat pendidikan Al Ula selama 6 tahun, Al Wusta 3 tahun, dan tingkatan tertinggi Al Ulya 3 tahun.

Tentu dengan kemampuan masing-masing, lambat laun santri dapat menulis aksara pegon. Santri butuh waktu satu sampai tiga tahun untuk bisa menulis lancar. Tak jarang dari mereka diwajibkan membaca terjemahan beraksara pegon seperti pada tafsir al ibriz hingga kitab fathul mu'in dan al mahalli.

Pendalaman santri terhadap aksara ini berlanjut dengan menulis ilmu nahwu kemudian diperbanyak untuk membantu para pemula di lingkungan pesantren.

"Intinya, saya memberi para santri kail. Kalau sudah bisa menguasai, dia sudah bisa mencari ikan sendiri. Jadi mau apa saja bisa," kata Kiai Zainal mengibaratkan.

Dalam aktivitas sehari-hari, aksara Pegon digunakan sebagian santri dalam komunikasi tulis seperti surat-menyurat baik dengan orangtua maupun teman. Pada saat tertentu ada pula yang menulis di papan pengumuman lingkungan pesantren. "Dulu kalau saya menyurati orangtua, terkadang untuk meminta dikirim uang ya pakai aksara Pegon itu," kenang Kiai.

Meski kenyataan surat-menyurat secara pribadi kini jarang dilakukan, sebagian orang bertransformasi menggunakan teknologi digital untuk mendukung aktivitasnya.

Hal itu diamini Shofa Fikria (23), warga Sayung Demak. Kebiasaannya menulis aksara Pegon sejak bermukim di pesantren membawanya untuk menggunakan aksara pegon saat berkomunikasi melalui sosial media.

Untuk keperluan tertentu, Alumnus Sekolah Tinggi Agama Islam Walisembilan (Setia WS) Semarang tersebut acap kali mengalihkan kibor pada ponselnya ke dalam huruf Arab untuk sekadar menulis di status pribadi atau berkirim pesan.

 

"(Menulis) pakai pegon itu rasanya wah. Tapi bergantung lawan (mitra tutur) juga, biasanya kalau saya pakai aksara ini saat chat dengan teman saya orang Jawa Timur sana," kata dia.

Iaa sedikit menyayangkan, dasar huruf Arab pada keyboard ponselnya kurang cukup mewakilkan karakter khas seperti yang ia pelajari saat di pesantren. "cukup repot merangkainya," tuturnya.

Menuju Digitalisasi

Aksara pegon memiliki dasar arabic atau abjad Arab sebenarnya telah terdaftar di Unicode, suatu standar teknis untuk pengkodean karakter tertulis dan teks di dunia komputer. Tahun 2020 lalu seorang pegiat aksara, Diaz Nawaksara merancang aksara pegon ke situs web yang dapat diakses melalui laman ڤَيڮَون.id .

Namun, karakter Arabic di Indonesia yang variatif membuat Filolog bernama terang Didin Ahmad Zainudin itu tak lantas berhenti. Penyempurnaan terus dilakukan hingga kini, sebab masih banyak karakter yang belum termuat dalam domain.

Misalnya, kata Diaz, Indonesia memiliki karakter arabic Sunda disebut pego, arabic javanese atau Jawa disebut pegon, dan arabic Bugis serta Makassar disebut aksara serang. Sekian daerah yang diklasifikasikan, ia menemukan beberapa varian yang menurutnya unik seperti 'pepet' atau 'harokat' yang belum terdaftar di Unicode.

"Paling unik, saya menemukan dari naskan Sumatera Barat, suara O vokal kombinasi fathah dan wawu mati. Di sana vokal O menjadi harokat, bukan lagi koombinasi. Misalnyan kata 'lomba', huruf lam harokat (o) kemudian huruf mim dan ba', itu belum ada," paparnya.

Saat ini, pihaknya masih berupaya melakukan inventarisasi data dengan menggali sumber-sumber manuskrip dan kitab-kitab pesantren untuk mencari karakter lain. Tidak bukan sebagai langkah untuk mendaftarkan aksara pegon ke Unicode. "Saya pikir suatu yang akan datang setelah transformasi, santri sudah siap digital. Itu tidak akan terjadi kalau kebutuhan tidak disiapkan sejak hari ini, di antaranya adalah mendaftarkan karakter-karakter itu ke Unicode," terangnya.

Sementara langkah proses digitalisasi lebih lanjut, Pengelola Nama Domain Internet indonesia (Pandi) kini sedang melakukan persiapan pengajuan ke Internet Corporation for Assigned Named and Numbers (ICANN) sebagai iInternationalize Domain Name (IDN). Hal itu agar nantinya aksara yang diajukan termasuk pegon bisa diakses dan digunakan di internet.

"Proses persiapan sudah kami lakukan sejak akhir 2020 lalu.

Perjalanannya masih sangat panjang. Meski tidak mudah, harus tetap kita jalani," kata Ketua Pandi, Yudho Giri Sucahyo.

Tulisan Lainnya


Pengumuman Pemenang Lomba Kaligrafi Aksara Nusantara

Para juri hanya mengamati gambar, sedangkan nama pembuat karya baru dimunculkan oleh panitia setelah juri memutuskan para pemenang. Setelah menelaah, mencermati, dan menimbang karya-karya peserta, para juri memutuskan pemenang sebagai berikut.

Didukung PANDI: Kemenag Akan Gelar Kongres Digitalisasi Aksara Pegon

Kegiatan persiapan prakongres Aksara Pegon dihadiri juga para Pegiat Aksara. Forum ini menyepakati bahwa salah satu cara agar digitalisasi Aksara Pegon dapat terwujud diperlukan beberapa tahapan.

Lomba Kaligrafi Aksara Nusantara (Q&A)

Lomba ini dapat diikuti oleh seluruh masyarakat Indonesia dari semua kalangan, diselenggarakan oleh Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) bekerja sama dengan Yayasan Kebudayaan Rancagé. Berikut adalah pertanyaan yang sering diajukan kepada panitia.

Aksara Nusantara Diwacanakan jadi Bagian TKDN Perangkat Digital

Ini sebagai tindak lanjut penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) terhadap Font, Papan tombol, Transliterasi Aksara Jawa, Sunda dan Bali. Upaya mendorong TKDN Aksara Nusantara pada perangkat digital

Pendaftaran Aksara Kawi ke Unicode

Dengan masuknya Aksara Kawi ke Unicode kemudian menjadi peluang untuk revitalisasi Aksara Kawi di dunia digital yang akan didukung penggunaannya melalui SNI.

Aksara Kawi dan Pegon Segera Dapat SNI, PANDI Siap Daftarkan IDN ke ICANN

Kedua aksara tersebut sudah diusulkan melalui website sispk.bsn.go.id di mana saat ini dalam tahap proses publikasi oleh BSN untuk menjaring pendapat masyarakat. Selanjutnya akan diajukan ke KKPS untuk rekomendasi penetapan menjadi PNPS.