Artikel

Informasi terkait digitalisasi aksara Nusantara.

Gaok Mencari Pewaris

Agung Legiarta— 18 Februari 2021 16:12
Pelaku seni Gaok di Desa Kulur, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Rukmin (kiri) dan Syamsuddin saat ditemui di Balai Desa Kulur, beberapa waktu lalu. (Agung Legiarta)

Malik deui, Geulis, malik deui
Ngareureuyeuh deui, ngareureuyeuh
Mawa ngidul ka popojok, mawa ngidul ka popojok
Ari gaok Désa Kulur
Ngahaja rék ngahibur
Lumayan ti batan nganggur
Ngalamunkeun lembur
Gaok nu kapungkur
Kacatur nu kamasyhur
Ayana di Desa Kulur

Sepenggal bait disenandungkan. Suaranya khas, kadang rendah sesekali tinggi, mendayu dangding layaknya kawih atau tembang Sunda asli. Ia mengenakan baju kebesarannya tiap kali pentas, baju toro atau baju kampret berwarna hitam-hitam, lengkap dengan ikat kepala bermotif batik. Di dada sebelah kiri dan kanannya, tersemat 2 pin medali. “Ini medali apresiasi karena aktif menjadi pegiat seni Sunda karuhun. Kalau satunya, bentuk edelweiss (Anaphalis Javanica, bunga abadi favorit pendaki, lazim ditemukan di pegunungan), saya dapatkan ketika tampil malam-malam di Gunung Ciremai, “ singkat Rukmin (79 tahun) saat ditanya.

Ya sebuah mini-show dari kesenian Gaok pimpinan Aki Rukmin, panggilan akrab-nya, ditampilkan saat perjumpaan kami pertama di Balai Desa Kulur Kabupaten Majalengka, beberapa waktu lalu. Aki Rukmin dan dua personel pemain Gaok lainnya, yakni pak Andi dan pak Syamsudin, adalah sebagian pelaku tersisa yang hingga kini masih mempertahankan seni Gaok se-Kabupaten Majalengka. Lainnya nyaris tidak ada. Sehingga tidak heran, bagi generasi milenial atau kelahiran 90-an misalnya, mereka mengangkat bahu alias tidak ngeh dengan apa itu Gaok.

Kontras dengan saat masa keemasan-nya, Gaok begitu kondang untuk hilir mudik kampung melayani undangan hajat dari masyarakat dalam dan luar Majalengka. Atau ketika berjaya tampil dalam pagelaran-pagelaran seni Sunda. Kekhasan dan orisinalitas Gaok, termasuk suara dalang Aki Rukmin membuat para juri pagelaran kala itu, menahbiskannya menjadi yang terbaik.

Sejarah panjang Gaok Desa Kulur ada di titik terendah. Show Gaok sudah jarang dipentaskan, terkecuali sesekali bagi mahasiswa-mahasiswi. Itu pun karena keperluan penelitian jurusan seni dan sastra mereka. Minimnya order hajatan, membuat seni khas kota angin Majalengka ini, terancam punah. Sementara di lain sisi, Gaok kesulitan mencari penerus. Bahkan, tanpa preservasi yang layak, Gaok tidak mungkin bertahan untuk 1-2 tahun ke depan. Hasil perjuangan Gaok masuk menjadi daftar Warisan Budaya Tidak Benda atau WBTB Provinsi Jawa Barat menjadi sia-sia.

Berikut ini adalah hasil liputan saya beberapa waktu lalu, untuk mengetahui Gaok langsung dari pelaku sejarah yakni Aki Rukmin. Liputan ini didukung penuh oleh PANDI yang giat mempromosikan kesenian daerah, dalam program Merajut Indonesia Melalui Digitalisasi Aksara Nusantara.

 

Representasi Karuhun Majalengka

Posisi geografis yang berada di antara wilayah pesisir dan pegunungan, serta unsur budaya Cirebon (Jawa) dan Priangan (Sunda) memberi Majalengka kekuatan ragam seni budaya. Cerminan ini bisa dilihat dari banyaknya jumlah kesenian daerahnya, termasuk salah satu diantaranya kesenian Gaok dari Desa Kulur.

Desa Kulur berada di wilayah Majalengka Timur. Tidak begitu jauh dari pusat perkotaan Majalengka. Suasana perumahan di perbukitan, hamparan tanaman padi hijau di kanan kiri, menjadi pemandangan segar saat berkendara menuju desa Kulur. Akses jalan tidak begitu sulit. 20 menit perjalanan dari kampung saya, desa Jatiwangi, Majalengka, yang terletak di dataran lebih rendah, dan bersinggungan langsung dengan jalur utama Cirebon-Bandung. Terlebih hawa dingin pagi hari kala itu yang memang tengah gerimis.

Sebagai seni pertunjukan karuhun atau leluhur, Gaok dari Desa Kulur, tidak diketahui persis kapan mulai ada. Tidak ada peninggalan (prasasti atau naskah) yang menunjukkan keterangan waktu. Dalam penelusuran literatur yang ada, saya mencatat kesamaan yang bisa dijadikan pegangan. Penamaan Gaok berasal dari kata “gorowok” artinya berteriak, karena cara membawakannya dengan dinyanyikan suara keras atau nada tinggi. Gaok adalah jenis kesenian pertunjukan mamaos (membaca teks) berupa wawacan, dari kata wawar ka nu acan atau berarti memberi tahu kepada yang belum mengetahui (Profil Kesenian Daerah Kabupaten Majalengka, Asikin Hidayat, 2017). Pada awalnya, Gaok disuguhkan untuk keperluan ritual dan adat upacara kelahiran bayi.

Gaok sebagai kesenian, dianggap sebagai hasil pencampuran nilai budaya atau sinkretisme etnis Sunda dengan budaya Islam yang datang dari Cirebon. Hal ini didasari Gaok sebagai medium dakwah di Majalengka, saat penyebaran ajaran Islam masa pemerintahan Pangeran Muhammad pada abad ke 15. Sejumlah fakta menguatkan pendapat ini, keberadaan Aksara Arab (Pegon) pada naskah asli wawacan, dan jalan ceritanya berupa kisah-kisah Nabi (Anbiya) di-kidung-kan seniman Gaok. Selain itu, pada praktiknya, dalam pertunjukan yang menggunakan bahasa Sunda, pengucapan lafal Basmallah di awal Wawacan, menjadi keharusan.

Sejarah Gaok di Majalengka juga erat dikaitkan dengan 2 tokoh seniman yakni Sabda Wangsadihardja (pada abad ke 20), serta anaknya yakni Engkos Wangsadihardja (era kejayaan pada tahun 1960-an). Kini sepeninggal tokoh tersebut, sebagai penerus adalah Aki Rukmin. “Saya keponakan Wangsadihardja, saya manggilnya Uwak,” kata Aki Rukmin. Ia mengiyakan jika Gaok menjadi hiburan favorit masyarakat. Aki Rukmin yang bergabung grup Gaok sejak tahun 1963, sering tampil di kampung-kampung. “Nu ngagaduhan bayi, ngarupus, ngayun sampe babarit sawah (yang punya bayi, melahirkan, sampai panen sawah),” kenang Aki Rukmin.

Gaok kini dan dulu memiliki perbedaan. Di awal, Gaok dibawakan hanya sebatas memaparkan cerita babad tanpa iringan musik alias asli mengandalkan kemampuan dalang mengolah cerita lalakon dengan ragam jenis lagu pupuh. Karena sifatnya sebagai seni pertunjukan, Gaok berkembang. Gaok mulai ditambahkan dengan alat musik. Itupun, menurut Fahrurozi dalam penelitiannya Strategi Dalang Gaok, 2014, hanya digunakan untuk mengiringi mamaos/Gaok secara keseluruhan atau hanya jeda misal pada saat mengakhiri kalimat lagu atau ngagoongkeun pupuh.

Pada saat itu, menurut Aki Rukmin, Gaok dilengkapi naskah, sesaji (ritual), dan waditra (alat musik) pengiring. “Apapun yang ada di dapur, kecrek-nya sendok, kadang piring, tapi kesininya ada tukang Kendang, Gong, Terompet, tapi yang aslinya tetap ada, Buyung, ” beber pak Udin, peniup Buyung. Gaok mengalami transformasi.

Naskah Gaok, masih berdasarkan penuturan Aki Rukmin, berupa wawacan atau lalakon yang berjumlah tujuh belas. Beberapa yang favorit ia sering bawakan yakni cerita Sulanjana, Barjah, Samun, Nyi Rambut Kasih dan Talagamanggung. “Itu cerita padi dan Dewi Sri (Sulanjana),” ujar Aki Rukmin. Selain pelaku seni seperti Aki Rukmin, keberadaan naskah menjadi bukti peninggalan seni sunda karuhun (lama) yang hingga saat ini masih bertahan. Aki Rukmin yang berperan sebagai dalang Gaok, menguasai berbagai jenis pupuh-nya, dimana yang sering dia bawakan antara lain Kinanti, Sinom, Asmarandana, dan Dangdanggula.

“Lagu-lagu itu harus purwakanti (repetisi yang sama), kalau ga gitu, ga enak didengar, kapan suara sedang, besar kecil, susah,” Aki Rukmin menegaskan. Jika diibaratkan Gaok sebagai pekerjaan menyanyi yang dimainkan empat sampai enam orang yang dipimpin dalang. Gaok merupakan seni dengan model partisipatif dan saling berbalas. “Yang baca cerita itu dalang, kemudian dilanjut sampe habis pupuh itu ya ke 7 personil itu. Dangdingpupuh-nya harus hapal semua. Nah sekarang mencari personel yang bisa pupuh itu yang susah, kebetulan disini tinggal ini doang yang masih eksis,” pak Andi, personel Gaok lainnya, ikut menimpali.

Tidak semata sumber daya manusia, pengelolaan koleksi naskah wawacan juga menjadi sorotan. Pasalnya, naskah wawacan asli yang ada, tidak lebih tua dari umur perjalanan Aki Rukmin menggeluti Gaok. “Aksara Arab, ini buatan tahun 61-62. disebutnya Aksara Pegon, dibikinnya sebaris oleh mantan sekretaris desa Wangsadihardja.” Selain lapuk karena material-nya, wawacan asli dengan Aksara Pegon yang disodorkan Aki Rukmin pada saya, memang terlihat kurang terawat. Robek di beberapa sisi, pudar di beberapa bagian halamannya. Bahkan, sebagian di antaranya malah hilang tidak kembali akibat peminjaman. Alih bahasa yang dilakukan beberapa peneliti yang concern dengan manuskrip sastra kuno, tetapi itupun dirasa belum cukup.  “Iya ini tos dialihkeun (dipindahkan ke Aksara Latin) sabait sabaris, diterjemahkan iyeu,” ujar Aki Rukmin sambil menunjuk buku penelitian tebal milik mahasiswa yang meneliti wawacan Samun.

 

Mencari pewaris Gaok

Seiring perkembangan zaman, sejumlah persoalan menghadang seni Gaok. Kini masyarakat sudah banyak berubah. Konteks realitas yang ada, membuat Majalengka bukan kota kecil seperti dulu. Di berbagai wilayah, infrastruktur mulai dibangun. Pabrik-pabrik industri kini merambah daerah-daerah di Majalengka sebagai migrasi kepadatan di ibukota. Jalan tol Cikampek-Palimanan atau (Cipali) menyeruak akses jalan dari dan menuju Majalengka. Pun kemajuan teknologi berangsur membuka akses informasi bagi desa-desa tradisional yang selama ini tertutup. Eksesnya, pedesaan dengan masyarakat agro-nya, beranjak dari kultur lama-nya. Bekerja di kota, berinteraksi, mengubah konteks sosial budaya yang ada.

Imbas dari realitas kehidupan yang ada, membuat Gaok yang tidak (lagi) berkembang. Yang terasa, pementasan Gaok jauh berkurang. Bahkan tradisi masyarakat yang biasanya mengundang Gaok untuk tampil, tidak lagi dilakukan. Diakui Aki Rukmin, penampilan Gaok melorot jauh. Itupun jika ada undangan mengisi hajatan atau tampil untuk keperluan penelitian semata. Keluhan Aki Rukmin seiring dengan turunnya minat terhadap Gaok. Gaok dianggap old-fashion. Sebagai hiburan, Gaok dianggap monoton. Seni-nya orangtua. Realitas yang juga disadari oleh Aki Rukmin. Regenerasi yang ia coba lakukan, tidak semudah membalikkan telapak tangan.

“Memang sangat susah, inginnya mencari murid, nepakeun (menularkan), ini saya sudah model gini (tua), saya ga nyanggupin. Jawaban anak muda sekarang katanya malu,” kata Aki Rukmin berkeluh kesah. Aki Rukmin menyebut minat pemuda mempelajari Gaok saat ini dirasa kurang. Praktek mengajarkan pernah ia lakukan, namun generasi muda di daerahnya saat ini tidak tertarik menekuni seni yang menjadi ciri khas desa Kulur. Sulit menguasai skill Gaok, tidak percaya diri, para remaja dan anak muda beralasan. Mereka pilih bermain musik semacam Band. “Bagaimana saya menurunkannya, kan ada Dangding nya (nada), memang seni Gaok kayak gitu, ada model cengkok-nya,“ kata Aki Rukmin. “Saya juga modelnya kalau tidak diawalin sama dalang, terus keluar dari bait itu, ya udah blank aja langgam-nya. Terlalu jauh (gap suara),” Pak Udin menimpali.

Keengganan generasi muda Desa Kulur diakui Hasan Sunarto, Kepala Desa Kulur. Ia melihat, Gaok di desanya cenderung stagnan. “Memang anak-anak zaman sekarang agak susah juga untuk dibawa melestarikan seni gaok ini, susah.” Hasan melihat, minim pentas menjadi faktor-nya. Frekuensi pengenalan seni lebih dini pada generasi muda dirasa kurang. “anak-anak juga kalau ada pentas ini, hadir mah hadir, artinya secara antusias mah, pentas ini banyak melihat, banyak yang nonton.” Menurut Kuwu Hasan, wadahnya sudah relatif tersedia. Di Desa yang ia pimpin, acara rutin mulai digalakkan lagi, seperti panen raya blok Cijorey, acara Agustus-an (HUT Republik Indonesia), maupun Maulud Nabi, dimana kolaborasi Gaok Aki Rukmin dan tabuhan alat musik genjring. Hal yang juga tidak kalah penting menurutnya, pengajaran muatan lokal berupa seni Sunda misal semodel pupuh, sudah jarang diajarkan di sekolah.“

Tentunya tidak sedikit kesenian daerah yang mengalami kendala ini. Bahkan bisa jadi inilah gambaran kesenian daerah di Nusantara pada abad 21. Masyarakat teralihkan dari kesenian daerah. Seni dan tradisi terancam punah akibat dianggap tidak mampu mengimbangi konteks sosial masyarakat pendukungnya.

Menurut Ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Dr. Pudentia Tety, fenomena seni tradisi yang mengikuti zaman dinilai tidak terelakkan. “Sifatnya tradisi lisan itu kan aktual ya, dulu juga aktual pada masa itu.” Menurut pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia ini, tiap daerah memiliki dinamika sendiri (terkait daya tahan tradisi lisan-nya). Kondisi ini perlu dipahami tergantung konteks sosial budaya masyarakat yang tidak sama.

Pudentia mengemukakan beberapa hal yang perlu dilihat dari keberadaan dan daya tahan tradisi lisan di tengah perkembangan zaman. Pertama, tradisi lisan sebagai karya terbarukan. Menurutnya, meski dari masa lalu, tradisi lisan menyesuaikan dengan situasi yang ada. Kedua, karakteristik tradisi lisan yang dibedakan menjadi living tradition dan atau memory tradition. Ketiga, fungsi dan peran dari tradisi lisan itu sendiri. “Dari ketiga itu, apakah dia selalu terbarukan, dalam penampilan pentasnya, cara membawakannya, bahkan sering kali di dalam kostum dan properti menyesuaikan, tapi juga isi yang ditampilkan, dia mengolah yang ada pada jamannya,” bebernya.

Kasus Gaok menurutnya bisa dipengaruhi akibat gap atau jarak antara generasi tua dan muda.  “Ini mesti diteliti lanjut, dari pengalaman tradisi lisan yang lain, tradisi itu hanya dibawakan oleh yang tua-tua saja, kemudian momennya, pentas kehadirannya, momen yang tidak milenial, yang serius, yang tua-tua gitu kan. Kadang anak mudanya juga akhirnya, ah ini mah punya orangtua, saya ga termasuk, saya ga minat,” ujar Pudentia.

Dari cerita Aki Rukmin, upaya pembenahan (modernisasi) secara mandiri ia lakukan, agar Gaok tidak tergerus zaman. Hal itu di antaranya manajemen pengelolaan organisasi (maklum sedari awal, grup Gaok semodel Go-Show, alias langsung tampil). Aki Rukmin membuat sanggar yang dinamakan "Sinar Kiara Rambay". Sanggar yang berarti bendungan sumber mata air ini, ia jalankan dengan intuisi dan kemampuannya sendiri. Untuk meramaikan pertunjukan, Aki Rukmin menggandeng jasa pihak lain, sebagai musik pengiring yakni sanggar wayang golek Giri Cempaka. Biar lebih ciamik dari seni hiburan. Langkah berikutnya, awal tahun 2000-an, Aki Rukmin tidak segan mengkombinasikan Gaok dengan seni kontemporer lain. Ia padu padan unsur lagu, musik, bahkan banyolan komedi. Unsur yang sebenarnya tidak terpikirkan dari awal model Gaok, yang kala itu sakral untuk ritual maupun dakwah. Namun demi tuntutan atraktif, sesi komedi dimasukkan. Unsur tambahan musik dan komedi juga sebagai trik, mengingat faktor kesehatan Aki Rukmin yang termakan usia, sehingga harus pintar menjaga stamina saat melantunkan wawacan yang memang memiliki nada tinggi melengking. Sayangnya, upaya ini tidak semulus perkiraan. Bahkan, sempat tercetus kolaborasi Gaok dengan seni pertunjukan yang lebih milenial, seperti Hip-Hop (ide seorang Rapper Enka, asli desa Sukaraja, Majalengka), namun hanya sebatas wacana.

Aki Rukmin kini tengah nurunkeun elmu (mewariskan ilmu) kepada pak Udin dan pak Andi, yang digadang-gadang sebagai penerus sepeninggal Aki Rukmin. Proses regenerasi ini bukan tanpa kendala. “Emang susah banget, untuk ngapalin pupuh-nya itu susah. Kalau saya 1-2 pupuh doang,” ujar pak Udin. “Kita ga bisa ngejar suara pak Rukmin yang memang khas, itu keunikannya, dia suaranya tinggi. Jangan terlalu tinggi sehingga orang umum bisa mengejar-nya, rancag-nya.”

Hal ini diamini pak Andi yang diplot menjadi dalang atau peng-rawit Gaok. “Hapal ke teks nya tapi ke tinggi rendah-nya nada pada bait yang susah,” jelas pak Andi. Pada praktiknya, ia mengaku hanya berupaya menguasai beberapa jenis pupuh saja. Itupun karena masih terpakai jika dia mendapatkan order panggilan untuk kidung di acara pernikahan masyarakat desa. “Dhandhanggula Sinom pihak istri, di acara nikah pengantin.”

Pelestarian dengan mewariskan Gaok (baik tradisi dan wawacan dengan aksara asli-nya) bukan pekerjaan rumah sekejap. “Kalau dibawa meninggal (penutur tradisi lisan), selesai sudah, karena ilmu-nya lama itu,” ujar Pudentia. Mengapa penting? Pudentia beralasan tradisi lisan dan tradisi tertulis (aksara) membentuk kebudayaan dan peradaban ke depan. “Dia hidup dalam memori orang-orang, dia adalah bagian dari komunitas, bagian dari sosial budaya, dia selalu berkembang, bergerak, kalau kita mengetahui (betapa pentingnya pelestarian seni), gimana ciri-nya, mitologi nya, way of life nya, bagaimana memori yang ada di dalam pikiran, dan sebagainya,” Pudentia mengingatkan.

 

Menjawab Tantangan Zaman

Upaya mempertahankan Gaok tidak dimungkiri memerlukan perubahan adaptif ke depan. Pelestarian dan kemajuan kebudayaan diantaranya tradisi lisan, diatur oleh Undang-Undang Perlindungan Kebudayaan Nomor 5 Tahun 2017. Objek kebudayaan seperti Gaok misalnya wajib dilestarikan. Terlebih, Gaok juga pada tahun 2018, sudah ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tidak Benda milik Provinsi Jawa Barat, dengan jenis nominataor seni pertunjukan. (tercatat Jabar memiliki 437 jenis WBTB Provinsi, angka 2016 ini harusnya bertambah dibanding tahun ini).

Apa kewajiban si pemilik seni tradisi WBTB? Menurut Pudentia, tanggung jawab utama adalah pemerintah setempat (si pengusul).  Menurutnya, pemerintah setempat melindungi, melestarikan kesenian daerah sesuai undang-undang (tidak semata Perda dan Permen) atau jika tidak dijalankan pemerintah bisa terkena sanksi. Sebagai WBTB, provinsi Jabar (pemerintah) wajib memperhatikannya, termasuk diantaranya pembinaan Sumber Daya Manusia, pengalokasian dana dan lainnya. “Gaok itu sudah WBTB, kebetulan saya ada di tim (penilai). kalau gak diapa-apakan, itu sertifikatnya (akreditasi) 5 tahun berikutnya dicabut. Jadi jangan sampai mengingkari kewajiban,” Pudentia mewanti-wanti.

Gaok kini berisi lebih banyak sisi hiburan-nya, meski tetap mengambil jalan cerita wawacan. Mungkin itulah jawaban. “Sekarang yang diperbanyak ya kliningan, hiburan-nya,” ujar pak Udin. Meski memang belum membuahkan hasil, yang membuat Gaok kembali digandrungi. Upaya modernisasi (sisi pertunjukan, atau penterjemahan wawacan Aksara Pegon ke bahasa Indonesia) menjadi lumrah untuk kebutuhan dimana seni tradisional bisa menyesuaikan perubahan. “Sepanjang dia tidak berubah dari hakikatnya dia masih bisa kita bilang dalam tradisi lisan, tapi kalau emang sudah berubah ya kita tidak bisa lagi sebut itu tradisi lisan yang sama, tapi suatu karya yang baru yang diwariskan karena munculnya semuanya serba baru, hanya mengambil bentuk tertentu tapi berubah semua, misal OVJ, ada lenong bocah, ludruk juga ada, tapi akhirnya jadi guyonan aja,” Pudentia berpendapat.

Kunci regenerasi, menurutnya, terletak pada Sumber Daya Manusia. “Dikembangkan di sekolah-sekolah, seni di sekolah budaya, sekolah umum, akan mati. Tradisi yang diperkuat dan menjadi kesadaran masyarakat bahwa ini milik mereka, ini kekayaan mereka,” tutup Pudentia.

            Aki Rukmin memang tidak pernah berpikir untuk berhenti dari Gaok. Baginya, Gaok adalah kehidupannya. Ia menjadi semacam ensiklopedi hidup. Ensiklopedi yang menjadi simbol kearifan lokal dan kekuatan akar budaya khas Majalengka. Di usia-nya menginjak 79 tahun, Aki Rukmin akan terus bersemangat memainkan Gaok. Siapapun peminatnya, meski sebatas mahasiswa penelitian sekalipun, tak masalah. Sehat selalu Ki.

Tulisan Lainnya


Aksara Nusantara Menuju Standar Nasional Indonesia

Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) dan pegiat aksara telah menyelesaikan rancangan SNI1, dokumen Rancangan Standar Nasional Indonesia 1 (RSNI 1) untuk Fon dan Papan Ketik yang sudah dikirimkan secara formal ke Badan Standardisasi Nasional (BSN).

Aksara Nusantara: Bukan Hanya Dilestarikan, Tapi Diterapkan

Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) mengadakan Webinar melalui aplikasi zoom, Kamis (9/9). Kegiatan tersebut digelar untuk menyambut Hari Aksara Internasional yang selalu diperingati setiap tanggal 8 September, dengan mengusung tema “Back To The Future: Peran Aksara Nusantara Pada Era Industri 4.0”.

Aksara Jawa, Sunda, dan Bali akan Didaftarkan Bersamaan ke BSN

Pengajuan dokumen Rancangan Standar Nasional Indonesia (RSNI) untuk standar papan ketik, fon, dan transliterasi aksara Jawa serta Sunda ke Badan Standardisasi Nasional (BSN) yang diajukan oleh Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (Pandi), tidak bisa diajukan satu persatu.

Bahasa dan Aksara Asli sebagai Akar Ketahanan Digital

Membangun ketahanan digital bangsa ini, kita memerlukan metode pengamanan yang tidak dimiliki bangsa lain. Bahasa dan aksara asli dapat dijadikan piranti untuk memperkokoh “serangan digital” dari negara lain.

Aksara Jawa dan Sunda segera Memperoleh Standardisasi

Setelah melalui diskusi panjang selama simposium berlangsung, akhirnya pegiat aksara Sunda, akademisi dan seluruh stakeholder yang terlibat dapat menyepakati standar papan ketik, fon dan transliterasi aksara Sunda. Ini akan kita ajukan kepada BSN dalam waktu dekat

Aksara Sunda dalam Gaya Kaligrafi

Untuk aksara Sunda, kelihatannya belum begitu berkembang dalam gaya kaligrafi. Di masyarakat sekarang, aksara Sunda tampaknya baru digunakan untuk menulis biasa atau standar persis seperti bentuk dasarnya.