Artikel

Informasi terkait digitalisasi aksara Nusantara.

Kibor Digital Aksara Lampung

Vina Oktavia— 16 Februari 2021 16:23
Meizano Ardhi Muhammad (40), dosen Program Studi Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas Lampung, menunjukkan papan ketik aksara Lampung di rumahnya, Jumat (12/2/2021), di Bandar Lampung. Pembuatan kibor aksara Lampung itu sebagai salah satu inovas (Vina Oktavia/Kompas)

Di tengah berbagai kendala, inovasi untuk pelestarian aksara Lampung terus dilakukan. Salah satunya dengan pembuatan huruf dan papan tuts digital aksara Lampung.

Meizano Ardhi Muhammad (40) memperagakan aksara Lampung yang diketiknya dengan 10 jari di atas papan tuts komputer. Satu per satu aksara itu muncul di layar komputer jinjingnya.

”Kita tinggal ketik dan akan muncul apa yang ingin dituliskan,” kata dosen Program Studi Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas Lampung (Unila) itu, Jumat (12/2/2021), di Bandar Lampung.

Saat ini semakin sedikit orang yang bisa menulis dan membaca aksara Lampung. Untuk itulah, Meizano bersama beberapa dosen menciptakan inovasikibor digital aksara Lampung agar aksara Lampung tak dilupakan.

Awalnya, tim peneliti melacak bentuk 20 huruf induk aksara Lampung yang telah dibakukan sejak 23 Februari 1985. Dikumpulkan pula bentuk 11 anak huruf atau tanda bunyi aksara Lampung.

Aksara Lampung itu lalu digambar dan dibuat desainnya di komputer. Selain itu, didesain pula peletakan setiap aksara pada papan tuts agar mempermudah penggunanya.

Kerja keras dan semangat untuk mendigitalisasi aksara Lampung terbayar setelah fon dan papan tuts aksara Lampung yang mereka ciptakan mendapatkan hak paten. Fon digital aksara Lampung dipatenkan pada 2017, sementara papan tuts aksara Lampung dipatenkan pada 2018. Pemegang hak cipta kedua inovasi itu adalah Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Umum Unila.

Menurut Meizano, papan tuts aksara Lampung itu belum sempurna. Sampai saat ini, pihaknya baru mencetak 100 unitpapan tuts dan dibagikan ke sejumlah akademisi, sekolah, dan para pemerhati aksara Lampung. Ke depan, mereka berencana membuat inovasi baru dengan stikerpapan tuts aksara Lampung supaya lebih efisien.

Mereka juga terus menyempurnakan inovasi kamus digital aksara Lampung. Saat ini sekitar 15.000 kata dalam bahasa Lampung dihimpun dalam kamus digital tersebut.

Selain itu, dipersiapkan juga pembuatan aplikasi fon aksara Lampung. Aplikasi ini memungkinkan penggunanya dapat mengetik aksara Lampung menggunakan gawai. Menurut rencana, aplikasi itu akan diluncurkan tahun ini.

 

Riset lain

Inovasi digitalisasi aksara Lampung juga tengah dilakukan Akmal Junaidi, dosen Fakultas MIPA Universitas Lampung. Dia sedang merancang sistem yang memungkinkan pemindaian tulisan Latin menjadi tulisan beraksara Lampung atau sebaliknya.

Riset itu diharapkan dapat menghasilkan produk aplikasi pemindai aksara Lampung yang bekerja secara otomatis. Nantinya pengguna juga dapat mengunduhnya di Play Store pada gawai masing-masing.

Akmal ingin mendaftarkan aksara Lampung dalam standar Unicode sebagai upaya digitalisasi aksara secara global. Namun, ternyata sudah ada peneliti dari luar negeri yang lebih dulu mengajukan proposal Unicode untuk aksara Lampung.

Peneliti itu adalah Ashuman Pandey, akademisi dari Universitas Michigan, Amerika Serikat. Rupanya, aksara Lampung menarik minat para peneliti di luar negeri. Peneliti di Lampung semestinya terpacu untuk bisa melestarikan warisan budaya tersebut.

Kepala Pusat Penelitian Budaya Lampung Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Umum Unila Anna Gustina mengatakan, inovasi yang dilakukan para akademisi itu sejalan dengan semangat kampus untuk memajukan budaya Lampung. Ke depan, inovasi dan digitalisasi aksara Lampung diharapkan bisa terus dikembangkan. Dengan begitu, harapan untuk mendekatkan kembali aksara daerah itu kepada generasi masa kini semakin nyata.

Tulisan Lainnya


Aksara Nusantara Menuju Standar Nasional Indonesia

Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) dan pegiat aksara telah menyelesaikan rancangan SNI1, dokumen Rancangan Standar Nasional Indonesia 1 (RSNI 1) untuk Fon dan Papan Ketik yang sudah dikirimkan secara formal ke Badan Standardisasi Nasional (BSN).

Aksara Nusantara: Bukan Hanya Dilestarikan, Tapi Diterapkan

Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) mengadakan Webinar melalui aplikasi zoom, Kamis (9/9). Kegiatan tersebut digelar untuk menyambut Hari Aksara Internasional yang selalu diperingati setiap tanggal 8 September, dengan mengusung tema “Back To The Future: Peran Aksara Nusantara Pada Era Industri 4.0”.

Aksara Jawa, Sunda, dan Bali akan Didaftarkan Bersamaan ke BSN

Pengajuan dokumen Rancangan Standar Nasional Indonesia (RSNI) untuk standar papan ketik, fon, dan transliterasi aksara Jawa serta Sunda ke Badan Standardisasi Nasional (BSN) yang diajukan oleh Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (Pandi), tidak bisa diajukan satu persatu.

Bahasa dan Aksara Asli sebagai Akar Ketahanan Digital

Membangun ketahanan digital bangsa ini, kita memerlukan metode pengamanan yang tidak dimiliki bangsa lain. Bahasa dan aksara asli dapat dijadikan piranti untuk memperkokoh “serangan digital” dari negara lain.

Aksara Jawa dan Sunda segera Memperoleh Standardisasi

Setelah melalui diskusi panjang selama simposium berlangsung, akhirnya pegiat aksara Sunda, akademisi dan seluruh stakeholder yang terlibat dapat menyepakati standar papan ketik, fon dan transliterasi aksara Sunda. Ini akan kita ajukan kepada BSN dalam waktu dekat

Aksara Sunda dalam Gaya Kaligrafi

Untuk aksara Sunda, kelihatannya belum begitu berkembang dalam gaya kaligrafi. Di masyarakat sekarang, aksara Sunda tampaknya baru digunakan untuk menulis biasa atau standar persis seperti bentuk dasarnya.