Sejarah Kemunculan Aksara Sunda

Ditemukan

Kemunculan Aksara Sunda paling awal ditemukan pada prasasti-prasasti di situs Kawali, Batutulis Bogor dan Piagam Kabantenan yang diperkirakan berasal dari masa Kerajaan Sunda, baik dari periode Kawali-Galuh maupun periode Pakuan-Pajajaran pada sekitar abad ke-14 atau 15 Masehi. K.F. Holle (1882) menguraikan secara jelas mengenai tipologis aksara pada prasasti-prasasti dan piagam tersebut dengan menyatakan sebagai “modern schrift uit de Soenda-landen, en niet meer dan ± 1500 jaar oud” yang berarti ‘aksara modern dari Tatar Sunda, dan berusia tidak lebih dari sekitar 1500 tahun’. Para ahli epigrafi menyebut aksara pada prasasti-prasasti tersebut sebagai aksara Sunda kuna.

 

Peninggalan lain yang merekam keberadaan aksara Sunda kuna adalah naskah-naskah lontar dari Kabuyutan Ciburuy, Garut, dan koleksi Perpustakaan Nasional RI, Jakarta. Rentang waktu penulisan atau penyalinan naskah-naskah itu diperkirakan berasal dari sekitar abad 16-18 Masehi. Dari bukti-bukti peninggalan prasasti dan naskah kuno, ditemukan beberapa variasi bentuk karakter aksara dengan sistem penulisannya.    

Pada abad berikutnya, aksara Sunda kuna tidak digunakan lagi. Aksara yang lebih umum digunakan oleh masyarakat Sunda pada abad ke-18 akhir atau  awal abad ke-19 M umumnya adalah aksara Jawa atau Cacarakan. Aksara ini digunakan dalam naskah-naskah yang bersifat sastra hingga surat menyurat. Penggunaan aksara Cacarakan didukung juga oleh penerbitan bahan-bahan bacaan pada masa Hindia Belanda, dan diajarkan pada sekolah formal untuk para ningrat. Pada masa ini, aksara Cacarakan atau Jawa disebut sebagai “aksara Sunda”.

Sebutan “aksara Sunda” untuk aksara Cacarakan atau Jawa-Sunda bertahan sampai masa setelah kemerdekaan Republik Indonesia. Aksara ini pun masih diajarkan di sekolah-sekolah Sunda di Jawa Barat sampai tahun 1980-an. Tetapi, sejak penyelenggaraan “Lokakarya Aksara Sunda” tahun 1997 di UNPAD, para ahli sepakat untuk mengembalikan istilah “aksara Sunda” untuk aksara yang digunakan pada prasasti dan naskah-naskah Sunda kuno. Dengan demikian penyebutan “aksara Sunda” untuk aksara Cacarakan atau Jawa-Sunda ditinggalkan, karena dianggap kurang tepat.

Dalam kegiatan lokakarya tahun 1997 diajukan pula upaya pembakuan aksara Sunda dengan melakukan pemilihan dan penyederhanaan varian-varian aksara Sunda kuno dari naskah-naskah lontar. Aksara Sunda yang telah dibakukan kemudian diperkenalkan kembali ke masyarakat Sunda. Tahun 2008 aksara Sunda diterima oleh Konsorsium Unicode sehingga masuk ke dalam standar pengkodean aksara di dunia untuk perangkat digital.  Sejak itu pula aksara Sunda dimasukkan ke dalam kurikulum pembelajaran bahasa Sunda untuk sekolah dasar dan menengah di Jawa Barat hingga sekarang.

Saat ini masyarakat semakin mengenali dan menggunakan aksara Sunda dalam berbagai aspek kehidupan. Contohnya antara lain penggunaan pada papan nama lokasi, bangunan, buku, kaligrafi, cinderamata, blog, website, media sosial dan lain-lain. Berbagai kegiatan sosialisasi, lomba, pembuatan font, maupun publikasi telah dilakukan oleh para pegiat dan komunitas di berbagai daerah. Hal tersebut menunjukkan animo masyarakat yang tinggi terhadap aksara Sunda. 

PANDI

Icon Business Park Unit L1-L2 BSD City, Sampora, Kec. Cisauk, Tangerang, Banten 15345

+622130055777

Lokasi