Bahasa

Bahasa daerah di Indonesia.

Bahasa Muna

Di Provinsi Sulawesi Tenggara

Bahasa Muna merupakan bahasa mayoritas di Pulau Muna dan pantai barat Pulau Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara. Penutur bahasa Muna terdapat di Kabupaten Muna, Muna Barat, Buton, Buton Utara, Buton Tengah, dan Kota Bau-Bau. Menurut pengakuan penduduk wilayah tutur bahasa Muna berdampingan dengan (i) wilayah tutur bahasa Kulisusu di Kabupaten Muna dan Buton Utara, (ii) wilayah tutur bahasa Jawa di Kabupaten Muna, (iii) wilayah tutur bahasa Bajo di Kabupaten Muna dan Buton, (iv) wilayah tutur bahasa Wolio di Kota Bau-Bau dan Kabupaten Buton, (v) wilayah tutur bahasa Cia-Cia di Kabupaten Buton, dan (vi) wilayah tutur bahasa Lasalimu-Kamaru di Kabupaten Buton.

Bahasa Muna memiliki dua puluh dialek, yaitu (1) dialek Lohia dituturkan oleh masyarakat yang berada di Desa Lohia, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna;(2) dialek Sidamangura dituturkan oleh masyarakat yang berada di Desa Sidamangura, Kecamatan Kusambi, Kabupaten Muna Barat;(3) dialek Lasiwa dituturkan oleh masyarakat yang berada di Desa Lasiwa, Kecamatan Wakorumba Utara, Kabupaten Buton Utara;(4) dialek Labora dituturkan oleh masyarakat yang berada di Desa Lambelu, Kecamatan Pasi Kolaga, Kabupaten Muna;(5) dialek Lapadaku dituturkan oleh masyarakat yang berada di Kelurahan Lapadaku, Kecamatan Lawa, Kabupaten Muna Barat;(6) dialek Bente dituturkan oleh masyarakat yang berada di Desa Bente, Kecamatan Kabawo, Kabupaten Muna;(7) dialek Bone Tondo dituturkan oleh masyarakat yang berada di Desa Bone Tondo,Kecamatan Bone, Kabupaten Muna; (8) dialek Gala dituturkan oleh masyarakat yang berada di Desa Gala, Kecamatan Maginti, Kabupaten Muna Barat;(9) dialek Lambiku dituturkan oleh masyarakat yang berada di Desa Lambiku, Kecamatan Napabalano, Kabupaten Muna;(10) dialek Wasilomata dituturkan oleh masyarakat yang berada di Desa Wakambangura, Kecamatan Mawasangka, Kabupaten Buton Tengah;(11) dialek Lombe dituturkan oleh masyarakat yang berada di Kelurahan Bombonawulu, Kecamatan Gu, Kabupaten Buton Tengah;(12) dialek Siompu dituturkan oleh masyarakat yang berada di Kelurahan Talaga Satu, Kecamatan Talaga Raya, Kabupaten Buton Tengah;(13) dialek Todanga dituturkan oleh masyarakat yang berada di Desa Todanga, Kecamatan Kapontori, Kabupaten Buton;(14) dialek GuMawasangka dituturkan oleh masyarakat yang berada di Desa Nepa Mekar, Kecamatan Lakudo, Kabupaten Buton Tengah;(15) dialek Pancana dituturkan oleh masyarakat yang berada di Kelurahan Watumotobe, Kecamatan Kapontori, Kabupaten Buton;(16) dialek Lipu dituturkan oleh masyarakat yang berada di Kelurahan Lipu, Kecamatan Betoambari, Kabupaten Kota Bau Bau;(17) dialek Boneoge dituturkan oleh masyarakat yang berada di Kelurahan Boneoge, Kecamatan Lakudo, Kabupaten Buton Tengah;(18) dialek Kioko dituturkan oleh masyarakat yang berada di Kelurahan Lipu, Kecamatan Kulisusu, Kabupaten Buton Utara;(19) dialek Waara dituturkan oleh masyarakat yang berada di Desa Waara, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna;(20) dialek Oempu dituturkan oleh masyarakat yang berada di Desa Oempu, Kecamatan Tongkuno, Kabupaten Muna. Persentase perbedaan antardialek tersebut berkisar antara 51%—78 %.

Sementara itu, hasil penghitungan dialektometri menunjukkan bahwa isolek Muna merupakan bahasa dengan persentase perbedaan berkisar antara 81%--100% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa lainnya di Sulawesi Tenggara, misalnya dibandingkan dengan bahasa Kulisusu, Wolio, dan Morunene.

Burhanuddin (1979) menyebutkan bahwa bahasa Muna memiliki lima dialek, yaitu dialek Wuna (dengan tiga subdialek: Wuna, Bombonawulu, dan Mawasangka), dialek Gu (Lakudo), dialek Katobengke, dialek Kadatua, dan dialek Siompu. Selain itu, Burhanuddin (1979) juga mengelompokkan dialek Pancana sebagai bahasa tersendiri dengan empat dialek, yaitu dialek Kapontori, dialek Kambowa, dan dialek Kalende yang terdiri atas dua subdialek, yaitu subdialek Kalende dan Lawele.